Sejarah Itu Ada
“Merdeka atau Mati”, “Mati Satu Tumbuh Seribu”,” Indonesia Merdeka” merupakan intepretasi dari rasa nasionalisme para pejuang kita di masa lalu guna menggapai kemerdekaan dari penjajah. Semangat yang pantang menyerah untuk memerdekakan bangsa. Dari kolonialisme. Belenggu kebodohan yang mengkerucutkan pemikiran bahwa Indonesia belum layak berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa barat kolonialis. Itu semua menjadi mentah ketika Jepang mampu mengalahkan Rusia pada tahun 1905 yang memunculkan kembali semangat retorika kejayaan masa lalu bangsa Indonesia pada khususnya dan Asia pada umumnya. Semangat Asia jaya yang dihembuskan Jepang guna menguasai Asia dan membebaskan pengaruh bangsa Eropa terhadap daerah Asia secara tidak langsung membuka sebuah pemikiran baru tentang kemandirian bangsa, walaupun kita harus menunggu sampai 17 agustus 1945 untuk menjadi sebuah bangsa dan negara yang diakui de jure dan de facto.
Perjuangan bangsa Indonesia telah tercatat dalam sejarah. Namun, selama ini, belenggu kebodohan itu seakan tidak pernah sirna. Guru sejarah selalu mengatakan “Negara yang pernah menjajah Indonesia adalah Portugis, Belanda, Inggris dan Jepang”, “ Belanda menjajah Indonesia Selama 3,5 abad dan Jepang menjajah Indonesia selama 3,5 tahun “. Bahkan hal tersebut dikorelasikan dengan ramalan Jayabaya, Bisa saja ramalan itu menjadi acuan tapi tidak harus tunduk. Malaysia saja tidak pernah mengakui bahwa mereka itu pernah
dijajah Inggris dan mereka menganggap bahwa kedudukan Negara Kerajaan Malaysia sejajar dengan Kerajaan Inggris. Tidak satupun buku sejarah dan guru di Malaysia yang menceritakan bahwa mereka pernah menjadi salah satu negara jajahan Inggris. Sungguh jauh berbeda dengan kondisi Indonesia, Semenjak sekolah dasar sampai sekolah menengah lanjutan atas, kita selalu membaca buku sejarah yang menyatakan bahwa Indonesia dijajah Portugis, Belanda, Inggris dan Jepang. Itu fakta yang pahit sekali. Bukankan kita kaya akan ragam bahasa. Jika Kata “dijajah” diganti dengan “berperang” atau “bertempur” tentu akan menimbulkan makna yang sangat positif sekali bagi generasi bangsa tanpa mengurangi makna perjuangan para pejuang kita selama ini.
Tidaklah mudah menjadi merdeka dan tidaklah mudah juga mempertahankannya. Syukuri apa yang ada dan sepenuhnya menyadari bahwa kemerdekaan itu adalah proses tanpa henti yang bermula dari sebuah perjuangan bangsa. Perjuangan itu tak hanya menjadi bagian dari leluhur kita saja. Generasi muda sebagai ujung tombak sebuah bangsa haruslah mampu menunjukkan arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Kemerdekaan dari intervensi asing, kemerdekaan dari penjajahan bangsa sendiri dan kemerdekaan atas bumi pertiwi,sebagai tanah tumpah darah bangsa kita, Bangsa Indonesia. Butuh perjuangan nyata, mulailah dari saat ini.
Bukan Sekedar Kata
Terlahir di daerah konflik Aceh (red : Lhokseumawe), tidak menjadikan saya sepenuhnya benci terhadap Indonesia. Harus diakui , melalui masa kecil di daerah konflik adalah sebuah kepahitan hidup tetapi jika saya terus memandang masa lalu tanpa memikirkan masa depan, itu dapat menghancurkan saya. Pengalaman hidup yang sebagian besar saya lalui di berbagai kota di Indonesia seperti Lhokseumawe, Medan, Bukittinggi dan Bandung, memberikan sedikit gambaran tentang keindonesiaan saya. Kita memang terlahir beda bukan berarti kita tidak sama. Ada kebanggaan tersendiri didalam perbedaan yang ada. Ragam budaya dan seni menjadikan segala perbedaan itu sebagai pengikat.
Mahasiswa sebagai agent of change, haruslah menjadi motor terdepan dalam menggagas kemajuan dan perubahan. Terkait isu-isu klaim Ambalat, seni tari, dan budaya oleh pihak Malaysia, harus bisa ditanggapi secara matang oleh Bangsa Indonesia. Mungkin saja hal itu hanya merupakan blow up media dan permainan politis. Dosen sosiologi industri saya pernah menyampaikan cerita pengalaman pribadinya bahwa mungkin saja media terlalu membesar-besarkan isu-isu terkait klaim Malaysia. Beliau mengatakan bahwa TNI AL dan Tentara Diraja Malaysia selalu mengadakan Coffee morning di atas kapal perang yang dilakukan secara bergantian oleh masing-masing pihak. Sulit membayangkan teman minum kopi saling bertempur karna alasan perbatasan yang sebenarnya tidak seperti pemberitaan yang berlebih-lebihan oleh media. Bisa saja, blow up yang ada, terkait isu minimnya anggaran alusista dan kesejahteraan prajurit TNI di perbatasan.
Begitu pula terkait dengan klaim bidang budaya oleh pihak Malaysia. Perlu kita ketahui bahwa Perdana Menteri Malaysia, Tun Sri Mohd Najib bin Tun Abdul Razak adalah keturunan langsung dari Sultan Hasanuddin. Beliau juga untuk kedua kalinya menginjakkan kaki di Kabupaten Gowa, Jumat (15/5/2009). Beliau melanjutkan tradiri sang ayah, Tun Abd Razak, yang pada tahun 1973 juga berkunjung ke Gowa. Tun Razak juga berziarah ke makam Raja Gowa Sultan Hasanuddin yang juga pahlawan nasional karena kegigihannya melawan penjajahan Belanda. Bupati Gowa Ichsan Yasin Limpo mengungkapkan bahwa Datuk Najib masih keturunan langsung Sultan Hasanuddin atau Raja Gowa Ke-16 I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe. Saya rasa, sebagian besar warga negara Malaysia dan Indonesia masih memiliki hubungan persaudaraan yang dekat dan tidak seharusnya pula diantara warga masyarakat serumpun saling bertengkar.
Kita harus melihat sejarah pada masa silam sebagai tolak ukur pemecahan masalah. Sudah tak seharusnya politik devide et impera ( red : adu domba) itu berlaku kembali pada saat ini. Jika kita masih terperangkap pada pola-pola yang diterapkan penjajah kolonialis, tentu kita harus mempertanyakan arti kemerdekaan itu sendiri. Generasi muda, mahasiswa, ujung tombak pembangunan bangsa sudah sepatutnya menghasilkan sesuatu yang produktif. Kita tak harus menjadi pencari solusi bangsa yang terkadang menimbulakn permasalahan yang baru. Mahasiswa bisa ambil bagian dari pemecahannya, Sebuah karya nyata dalam pelestarian ragam budaya dan seni bangsa Indonesia. Karna kita berbeda maka kita ada
Kontribusi Nyata
“Gajah di depan mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak”. Pepatah ini nyaris sama dengan kondisi masyarakat kita pada saat. Lebih mudah mencari kesalahan orang lain tanpa mau mengkoreksi diri lebih dalam. Ucapan saya bukan tanpa alasan, isu-isu klaim budaya oleh pihak Malaysia sampai-sampai membuat hampir sebagian masyarakat kita naik pitam bukan saja mengumpat tapi melalukan aksi yang terkesan dipaksakan.
Apakah kita sadar? Sejauh apa kita selama ini melestarikan budaya kita? . Pertanyaan ini lebih ditujukan secara umum, bukan hanya pemerintah. Bangsa Indonesia yang memiliki budaya itu bukan hanya pemerintahnya saja. Terlalu naïf kita menyalahkan orang lain. Pengalaman budaya sudah saya rasakan semenjak sekolah dasar. Ketika masih tinggal di Aceh, kurikulum bahasa daerah menjadi salah satu muatan lokal yang wajib dipelajari. Begitu pula ketika saya berasa di sekolah menengah pertama di Kota Medan. Tradisi dan kearifan lokal di pelajari dalam sebuah mata pelajaran kesenian dan kebudayaan daerah. Mungkin saja pelajaran ini tidak mendapat porsi khusus akan tetapi dengan adanya mata pelajaran ini adalah bentuk nyata perhargaan terhadap budaya-budaya lokal di Indonesia.
Pengakuan terhadap budaya-budaya lokal di tingkat sekolah memberi pengaruh positif terhadap siswa akan pentingnya melestarikan budaya itu sendiri. Untuk tingkat universitas dan institut, budaya-budaya lokal diapresiasikan dalam sebuah unit kegiatan mahasiswa. Unit kegiatan mahasiswa bidang budaya inilah merupakan salah satu benteng budaya yang terus melakukan kaderisasi baik secara aktif maupun pasif dalam melestarikan budaya-budaya lokal yang ada. Hampir setiap universitas di Indonesia memiliki unit kegiatan mahasiswa bidang budaya di kampusnya. Institut Teknologi Bandung memiliki hampir 30 unit budaya baik lokal maupun luar negeri.
Apresiasi budaya di kalangan mahasiswa tidak hanya sekedar melepas rindu akan budaya kampung halaman melainkan sarana pengembangan sosial bermasyarakat dan pembentukan karakter diri. Ada hal-hal yang tidak didapatkan di perkuliahan tetapi bisa ditemukan di unit kebudayaan tersebut. Kecintaan terhadap budaya-budaya lokal Indonesia pada akhirnya menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air, Indonesia. Pengalaman mengisi hari kemerdekaan RI ke 64 di salah satu sekolah menengah atas negeri di Kota Bandung bersama Unit Kebudayaan Aceh ITB cukup berkesan.

- Gambar 1: Penari Saman UKA ITB pada HUT RI 64 di SMAN 2 Bandung

Gambar 2 : Pemain Rapai Geleng UKA ITB
Penampilan berbagai perpaduan keseneian lokal mulai dari tari saman, tari merak, sisingaan dan berbagai pertunjukan seni khas sunda memberikan kesan tersendiri di hari kemerdekaan Republik Indonesia. Terik panas yang ada tidak menyulutkan semangat kami ( red: UKA ITB) untuk memberikan yang terbaik dalam acara HUT RI 64. Nasionalisme muncul melalui budaya. Sudah seharusnya mahasiswa memberikan kontribusi nyata bukan hanya ucapan asa belaka karna kemerdekaan bukanlah hadiah melainkan perjuangan.
Tulisan ini ditujukan untuk Lomba Blog dijaminmurah.com 2009, yang diselenggarakan oleh DijaminMurah.com sebagai salah satu market leader penyedia domain dan hosting murah dengan mengambil tema penulisan tentang Kemerdekaan Republik Indonesia.
